ME

I want to send happy and pleasant time to you ! ! !
TYADA TEMPAT TERINDAH SELAIN SURGA................!!!

Kamis, 04 Oktober 2012

NILAI-NILAI PANCASILA YANG TEREFLEKSIKAN DALAM BUDAYA SADRANAN


BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang sejak zaman kerajaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya bangsa lain yang menjajah serta menguasai bangsa Indonesia. Beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya berjuang untuk menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka, mandiri serta memiliki suatu  prinsip yang tersimpul dalam  pandangan hidup serta  filsafat hidup bangsa. Setelah melalui suatu proses yang cukup panjang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia menemukan jati dirinya, yang di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat dan karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain, oleh para pendiri negara kita dirumuskan dalam suatu rumusan yang sederhana namun mendalam, yang meliputi 5 prinsip (lima sila) yang kemudian diberi nama Pancasila. Secara historis bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilai-nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena itu berdasarkan fakta objektif secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila. Sebagai contoh adalah sebuah budaya di suatu daerah yang merupakan refleksi dari nilai-nilai pancasila yang telah ada sejak dahulu.
Budaya merupakan  suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang dipegang teguh secara bersama oleh semua anggota organisasi dalam pelaksanaan pekerjaan yang ada dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, budaya dalam suatu organisasi adalah menjadi pengikat semua karyawan secara bersama dalam organisasi tersebut dan sekaligus sebagai pemberi arti dan maksud dalam keterlibatan karyawan tersebut dalampekerjaan sehari-hari dari organisasi. Dalam literatur lain dikatakan bahwa kebudayaan adalah seluruhcara kehidupan dari masyarakat yang menapun dan tidak hanya mengenaisebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggaplebih tinggi atau lebih diinginkan. Jadi, budaya menunjuk pada berbagaiaspek kehidupan yang meliputi cara-cara berlaku, kepercayaankepercayaandan sikap-sikap dan juga hasil dari kelompok manusia yangkhas untuk suatu masyarakat atau kelompok tertentu.Budaya dalam arti yang luas adalah suatu keadaan akibat perilakumanusia yang secara perorangan atau kelompok, bermasyarakat danbernegara yang dapat mempengaruhi kehidupan yang damai dan tenteram,sejahtera dalam arti bahwa semua dapat hidup sehat diatas gariskemiskinan, tidak membedakan suku, etnik, ras dan jenis kelamin, tidakmencemari dan merusak lingkungan, tidak meracuni sumberdaya alamterbaharukan dan tidak terbaharukan, yang secara demokratis menjunjungtinggi hak dan kewajiban asasi manusia, memberi kebebasan untukberagama, kebebasan mengeluarkan pendapat dan kebebasan dapatmenikmati pendidikan sesuai bakat dan keinginannya.
Budaya sadranan merupakan salah satu budaya yang telah menjadi tradisidi masyarakat JAWA yang terefleksikandalamnilai-nialipancasila . SADRANAN atau nyadran bermula dari ritual craddha (Bahasa Sanskerta=pemujaan arwah) di India menurut ajaran Hindu, yaitu persembahyangan arwah dan mengirim sesaji yang dilakukan di candi (bahasa Sanskerta candikagrha=bangunan kematian) pada tiap bulan Phalguna, bulan ke-8 Kalender Saka (Caka). Ketika agama Hindu masuk ke Jawa berikut Kalender Saka, ritual itu tidak secara langsung menjadi bagian tradisi masyarakat. Kitab Pararaton dan Negarakretagama karangan Mpu Prapanca menyebut tradisi tersebut baru muncul pada era Hayam Wuruk (1362) di candi-candi keramat penyimpan abu jenazah raja-raja. Saking banyaknya candi yang harus dikunjungi, prosesi bisa berlangsung 3 bulan dari tanggal 4 bulan 8 (Phalguna), sepanjang bulan 9 (Cetra), sampai tanggal 7 bulan 10 (Wesakha). Masyarakat awam yang mengikuti raja, hanya melakukan ritual pada bulan 8 (Phalguna). Bukan ke candi melainkan ke sungai atau laut karena abu jenazah masyarakat awam tidak disimpan di candi.Rasulullah Muhammad SAW juga selalu menyempatkan diri berziarah ke makam leluhur dan sahabat. Tapi Nabi pernah melarang umatnya untuk ikut berziarah kubur meski akhirnya memperbolehkan sepanjang tidak menjurus ke perbuatan syirik.
Pada era Islam setelah masa Majapahit, tradisi craddha (lidah Jawa melafalkan menjadi sadra atau sadran) tetap dilestarikan sebagai wujud kompromi budaya antara agama Hindu dan Islam. Pelaksanaannya bukan lagi di sungai/ laut melainkan di kuburan karena Islam melarang kremasi jenazah. Ziarah kubur dan nyadran merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan ritus dan objek. Perbedaannya hanya terletak pada waktu pelaksanaannya karena nyadran biasanya pada waktu tertentu, yakni menjelang puasa. Hal ini berbeda dari ziarah kubur yang bisa dilakukan sewaktu-waktu.
Demi nyadran, orang rela mengeluarkan biaya yang kadang cukup besar, misalnya untuk pulang kampung bersama-sama atau mengadakan pengajian dengan mengundang tetangga guna mendoakan arwah leluhur. Bahkan pimpinan tempat kerja kadang memberi toleransi guna memberi kesempatan pegawainya berziarah ke kampung halaman.

RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah budaya sadranan termasuk dalam budaya masyarakat yang terefleksikan dalam nilai-nilai pancasila?
2.       Apakah pancasila merupakan landasan historis masyarakat indonesia?

TUJUAN
1.       Dapat mengetahui kandungan nilai-nilai pancasila pada setiap budaya daerah.
2.      Dapat menetahui pancasila sebagai alndasan historis masyarakat indonesia.














BAB 2
PEMBAHASAN
Nyadran merupakan budaya masyarakat jawa yang dilakukan pada setiap bulan ruwah. Budaya sadranan adalah peninggalan dari orang-orang terdahulu yang sampai sekarang masih dilaksanakan. Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Ruwah atau Syakban merupakan waktu yang tepat untuk melakukan nyadran. Nyadran atau sadranan adalah kegiatan sosial keagamaan tahunan. Esensinya adalah melakukan ziarah ke makam para leluhur. Bagi komunitas sosial saat ini, nyadran dipahami sebagai bentuk pelestarian tradisi nenek moyang. 
Kita akan menemukan nuansa magis dan unik dalam ritual nyadran. Keunikannya, selain menggunakan uba rampe tertentu, nyadran dilakukan di situs-situs yang dianggap keramat dan dipercaya masyarakat lokal bisa makin mendekatkan dengan Yang Kuasa
 Nyadran ini dialakuan mayarakat jawa dengan tujuan bersuci diri sebelum memasuki Ramadan, juga dilakukan oleh sebagian masyarakat dengan saling bermaaf-maaf’an menjelang berakhirnya bulan Syaban. Tujuannya supaya ketika menjalani puasa pada bulan Ramadan, secara batin meraka merasa sudah bersih dari beban dosa antarsesama (hablum minannas). Selain itu nyadran dilakukan untuk mendoakan para arwah-arwah leluhur yang telah meniggalkan kita terutama keluarga kita ataupun saudara-saudara kita agar mereka mendapatkan tempat yanglayakdi sisi Allah selainitu juga  semata-mata untuk mengingatkan bahwa kelak kita yang hidup seperti mereka: meninggal dan dikubur. Untuk itu, kita diingatkan supaya memanfaatkan sisa hidup dengan mencari bekal akhirat melalui peningkatan iman dan takwa, kualitas ibadah, termasuk memperbanyak amal dan sedekah. Nyadran telah membangunkan sebagian warga di dusun kecil ini dan menciptakan keakraban tersendiri. Nyadran diawali dengan ritual membawa tenong. Ratusan warga berjalan kaki  sambil membawa tenong yang berisi sesaji..
Sadranan identik dengan acara masak-memasak karena dalam sadranan kita dianjurkan untuk membawa makan-makanan yang nanatinya akan dinikmati secara bersama –sama. Dalam acara makan bersama itu kita dapat saling tuka-menukar dengan orang lain , biasanya menu makanan utama  yang harus ada yaitu ingkung ayam ,pisang, aneka sayuran khas indonesia dan lain-lain. Sadranan dapat dilakukan pada tempat-tempat biasa masyarakat berkumpul, seprti lumbung atau serambi masjid. Sebelum dilakukannya sadranan ini masyarakat desa terlebih dahulu mlakukan ziarah kubur, baru selanjutnya dilakukan sadranan , mulainya acara sadranan ini ditandai dibunyikannya kentongan di masjid atau lumbung. selama berlangsungnya upacara sadranan, bukan hanya nuansa religiusitas yang ditunjukkan, tetapi budaya setempat juga diekspos. pada upacara tersebut biasanya didahului oleh beberapa "pitutur" dari sesepuh kampung, pesan dari instasi pemerintah, kemudian doa. doa biasanya mengikuti kepercayaan setempat, yaitu dengan tradisi buddha. Doanya menggunakan tata cara agama buddha. Rampung doa, semua mencicipi makanan yang digelar, ada yang tukar-menukar kue, ada yang asyik ngobrol dengan kanan-kiri, maklum beberapa warga pulang dari rantauan hadir dalam kenduri.  Dari tata cara tersebut, jelas nyadran tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotong royong, guyub, pengorbanan, ekonomi. Bahkan, seusai nyadran ada warga yang mengajak saudara di desa ikut merantau dan bekerja di kota-kota besar. Di sinilah ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. 
Dari pengertian dan tata cara berjalannya budaya sadranan ini kita dapat mengetahui nilai-nilai pancasila yang terdapat didalamnya. Nilai pancasila yang pertama yaitu nilai pancasila sila ke-1 yang berbunyi ketuhanan Yang Maha Esa di katakan seperti itu karena dilihat dari tujuanya kegiatan tersebut dilakuakan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan bersuci dan membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah puasa dan juga ada kegiatan yang bertujuan untuk mendoakan arwah-arwah saudara kita agar mendapatkan tempat terbaik di sisisnya sehingga secara otomatis kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa.
Nilai pancasila yang kedua adalah pada sila ke-2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap , nilai kemanusiaan yang adil dan beradap nilai ini mempunyai makna Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Saling mencintai sesama manusia. Mengembangkan sikap tenggang rasa,tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. Dari konteks sosial dan budaya, nyadran  dapat menjadi wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan, dan nasionalisme. Sekelompok orang berkumpul bersama tanpa ada sekat kelas dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan, ataupun partai. Mereka saling tukar-menukar makanan  dan apabila ada sebuah keluarga yang kurang mampu sehinnga tidak dapat membawa makanan seperti yang selayaknya dibawa maka masing-masing dari keuarga yang lainnya tidak segan-segan untuk membagi makanan miliknya.
            Nilai pancasila yang ketiga yaitu terdapat pada sila ke-3 yang berbunyi  Persatuan Indonesia  nilai pancasila pada sila ke-3 tersebut dapat dilihat dari yang pertama tata caranya, kita bisa melihat bahwa tradisi itu bukan semata-mata ziarah ke makam leluhur dan acara makan-makan saja mengingat ada nilai-nilai sosial budaya, seperti gotong royong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi. Yang kedua karena tradisi ini dilakukan secara bersamaan disuatu desa , setiap keluarga semuanya berkumpul menjadi sati di suatu tempat yang telah di tentukan setelah ada tanda kentongan dibunyikan dari sini kita dapat meliha sebuah persatuan didalam sebuah kelompok sosial.
Realitas itu makin memperjelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda, dari yang kuat secara ekonomi kepada mereka yang masih perlu dibantu. Dalam aspek kekinian, tradisi itu juga bermetamorfosis menjadi wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Dalam konteks sosial dan budaya kekinian, nyadran dapat dijadikan wahana perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. Kita dapat melihat, ketika nyadran trah tertentu tidak terasa terkotak-kotak dalam status sosial, kelas, saudara berbeda agama, golongan, partai politik berkumpul menjadi satu. Mereka berbaur saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Terasa damai dan hangat familier. Apabila nyadran ditingkakan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom ayem, tenteram. 





BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
            Dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas mengenai budaya sadranan yang merupakan budaya yang terfleksikan dalam nilai-nilai pancasila dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pada pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara negara indonesia secara obyektif  historis telah dimilaki oleh bangsa indonesia. Sehingga nilai-nilai pancasila tersebut tidak lain merupakan kausa  materalis pancasila. Oleh karena itu kehidupan bangsa indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai pancasila. Maka sangat penting bagi generasi muda untuk menjaga setiap kebudayaan pada masyarakat indonesia karena setiap budaya tersebut merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.
Pada budaya nyadran ini terflesikan nilai-nilai pancasila yaitu sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sila kedua yang berbunyi “ Kemanusiaan yang  Adil dan Beradab” dan sila ketiga “Persatuan Indonesia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar